ANIMASI 2 & 3 DIMENSI

  1. JAKARTA(SINDO) – Animasi tiga dimensi (3D) diprediksi menjadi tren pada masa mendatang. Namun,sampai kini,animasi dua dimensi (2D) tetap digemari karena gambarnya lebih halus.
    Anak muda Indonesia yang tertarik bergelut dalam bidang animasi, baik kategori 2D maupun 3D cukup banyak. Hasilnya pun sudah berderet, yakni Si Huma, Homeland, Janus, Love Me Love, Mahabharatta,Sahabat, dan lainlain. Bahkan, beberapa karya anak negeri sudah difilmkan dan ditayangkan di layar kaca. Ada juga dalam bentuk film pendek dan berdurasi panjang, tapi belum dipublikasikan. Salah satu contoh kategori 3D, yakni film pendek 60 detik berjudul The Invasion of Penguin (TIP) karya Firman Widyasmara. Hebatnya, film ini sempat diputar dalam forum konferensi United Nation of Framework on Climate Change (UNFCC) di Bali pada Desember 2007 lalu.
    ’’Sebagai bentuk kampanye mencegah global warming. Film ini menggambarkan tentang invasi yang dilakukan penguin ke kota dan perumahan warga karena mereka sudah tidak lagi memiliki rumah akibat pemanasan global,” tutur Firman,sutradara film ini. Firman menjelaskan, untuk membuat sebuah film animasi 3D dengan teknik tradisional seperti yang dia lakukan memang butuh kesabaran ekstra. Pasalnya, untuk menayangkan film pendek berdurasi satu menit saja membutuhkan sekitar 3.000 gambar adegan. Membuat 3.000 gambar bukan pekerjaan yang dibilang ringan, butuh waktu dua bulan untuk menggarapnya dengan membutuhkan sebuah tim yang beranggotakan enam orang.
    Karena menggunakan metode tradisional, gambar yang diambil haruslah dari sebuah objek,kemudian diambil gambarnya dengan kamera digital. Firman membuat boneka-boneka kecil penguin dari bahan plastisin (bahan lilin) untuk film TIP.Lalu,boneka itu dicat dan diberi karakter wajah.Permodelan penguin ini juga dilengkapi latar panggung di atas meja kecil dan pencahayaan layaknya syuting film biasa. ’’Bulan pertama,kami gunakan untuk membuat story board-nya dan mulai membuat modelnya. Bulan kedua, syuting dan pengeditan,”ungkapnya.
    Teknik animasi 3D tradisional, yang sering disebut sebagai stop motion, masih digemari banyak animator meski terlihat lebih kompleks dan butuh ketelatenan ekstra.Sebab,teknik biaya untuk memproduksi sebuah animasi stop motion bisa dihemat.Firman menambahkan, untuk film TIP saja, biaya produksinya hanya Rp2 juta dan bisa menghasilkan film layak ditonton. Sebagai gambaran, Firman yang juga pemilik Lanting Studio ini menyatakan, harga salah satu perangkat lunak komputer pembuat animasi lebih dari Rp20 juta. Hal itu tentu sulit dijangkau kebanyakan animator muda Indonesia. Maka itu, metode konvensional menjadi pilihan mereka. Selain itu, para animator berusaha menghindari penggunaan perangkat lunak bajakan agar karyanya benar-benar orisinal. Teknik 3D konvensional atau stop motion merupakan teknik untuk menggerakkan sebuah objek berupa boneka, model, atau gambar dengan tangan animator.
    Gerakan itu dihasilkan dengan cara memindahkan posisi objek secara perlahan-lahan. Lalu, setiap pergerakan itu direkam dengan kamera foto ataupun camera shooting (film). Kemudian,hasilnya disusun secara berurutan dengan program komputer, memakai software yang sederhana,seperti Corel Rave atau Windows Movie Maker. Saat penggabungan gambar inilah dilakukan pengeditan. Sebab, tidak menutup kemungkinan selama pengambilan gambar banyak terjadi kesalahan. Bahkan, tidak jarang pula, apabila terjadi sedikit kesalahan, pengambilan gambar harus diulang lagi dari awal.’’
    Tentu Anda harus benar-benar cukup sabar dan telaten untuk membuat animasi ini,”ujarnya. ’’Objek animasi 3D pun tidak melulu boneka,manusia biasa juga bisa.Adegan seorang anak muda menjadikan badan temannya sebagai papan skate yang meluncur mengelilingi kota bisa dilakukan dengan teknik animasi 3D. Tentu agak sulit kalau adegan ini dilakukan tanpa menggunakan teknik animasi,”paparnya. Kendala yang sama juga dialami animator muda Indonesia yang ingin membuat karya 2D.
    Mahalnya harga software sering membuat mereka enggan melanjutkan kreativitasnya dan karyakarya itu pun hanya berakhir di gudang belakang atau laci paling bawah lemari.Wayan, 20, mahasiswa semester III Jurusan Desain, Institut Kesenian Jakarta (IKJ),pernah mengalami hal itu. Wayan menyatakan sudah memiliki contoh karya animasi 2D dengan durasi 30 detik,tapi tidak pernah berani mengikuti festival atau acara-acara pementasan lainnya.Wayan merasa masih harus lebih berkreasi untuk membuat karya yang bagus.Namun, jika menggunakan software bajakan, itu melanggar etika dan mencoreng kredibilitasnya sendiri. Namun, kini di kalangan animator mulai dikenal peranti lunak berbasis terbuka (open source software) yang tidak hanya gratis di-download, juga terbuka untuk dimodifikasi. ’’
    Ya meski tidak secanggih software seharusnya, ini cukup membantu kami yang masih menggunakan teknik konvensional flip book agar bisa berkreasi lebih baik,”paparnya. Wayan memang lebih memilih membuat animasi 2D dibandingkan 3D. Menurut dia, hasil animasi kategori ini lebih halus dan nilai seninya juga tinggi.Lihatlah animasi karya-karya industri rumah produksi animasi dunia, seperti Walt Disney dan Nickeledeon.
    Kebanyakan masih menggunakan teknik animasi 2D. Film animasi dari Jepang pun kebanyakan lebih memilih menggunakan kategori 2D. Direktur Urbanimation 2008 Hanintianto Joedo menyatakan, karya 2D per detik membutuhkan sekitar 24– 25 gambar.Namun, tidak jarang pula animasi sudah menjadi industri yang kejar tayang sehingga per detik hanya delapan gambar. Menurut dia, semakin banyak jumlah gambar, hasilnya akan semakin halus. Setiap gerakan tokoh kartun akan tampak lentur seperti benar-benar hidup. Sementara itu,jika gambarnya lebih sedikit,hasilnya akan kaku.’’
    Shin- Chan itu delapan gambar per detik sehingga hasilnya kurang halus dan agak kaku,”paparnya. Menggabungkan gambargambar antara satu dengan lainnya bukan pekerjaan mudah dan butuh ketelatenan ekstratinggi.
    Dia menambahkan, keterampilan animator dalam negeri banyak yang digunakan oleh beberapa perusahaan film animasi asing, tapi kurang mendapat tempat untuk berkarya di dalam negeri. Salah satunya kartun Doraemon dan Saint Seiya.Ternyata,di karya itu ada sentuhan tangan-tangan anak muda Indonesia meski mereka hanya bagian dari sebuah tim yang membuat karya tersebut. Dua film kartun produksi Jepang tersebut juga termasuk karya dua dimensi yang populer di kalangan penonton TV.Tidak hanya di Indonesia, juga di beberapa negara Asia. (abdul malik)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: